Jumat, 01 November 2013

KOSTUM KARNAVAL DARI BARANG BEKAS

Tahun lalu...
Tbm Wacan berpartisipasi untuk ikut karnaval acara bersih desa. Saat itu, kami menampilkan grup drumband dari barang bekas, Semua alat dibuat dari barang bekas, mulai pipa tabuh berbagai ukuran, kaleng bekas, botol kaca.


putri bunga kain perca

Asesoris kostum yang digunakan juga dari kain perca yang dihias menjadi dasi dan hiasan kepala. Pompom girl membawa rumbai-rumbai di tangan dari bunkus kue yang diubah menjadi kerlip-kerlip pom-pom.


Itu tahun lalu...
Tahun ini, kami tetapikut dengan lebih wow.. wow barang bekasnya maksudnya.
asesoris dan baju dari barang bekas
"Putri barang bekas nan cantik" begitu kira-kira. Hiasan kepala dari klobot (kulit) jagung dan kain perca, baju bordir tempel dari kain perca, dan kipas dari pelepah pisang. Dengan make-up lukisan bunga di wajah... hhmm cantik niaaaan...

Senin, 29 Oktober 2012

SUMMER CAMP 2012...!! YES WE ARE READY...!!!

Tanggal 4 sampai 6 Juli 2012. Sebuah acara gabungan TBM WACAN, RUMAH PINTAR SAHABAT AL ISLAM, dan KOMUNITAS SAHABAT ANAK, kami menyiapkan kemah liburan musim panas SUMMER CAMP 2012. Acara ini, didukung oleh KFC. Peserta yang ikut dari berbagai kalangan, siapapun boleh dan berhak mengikuti acara ini, mulai usia 8 tahun sampai 15 tahun.
TBM WACAN mempersiapkan satu tim yang akan mengikuti acara, dan bergabung dengan sekitar seratus anak-anak dari berbagai pelosok Malang. Luarbiasanya, tim dari TBM WACAN mempersiapkan diri sendiri, perbekalan, yel-yel, pentas seni... semua anak-anak siapkan sendiri. Saat hari terakhir sebelum acara, saya mengecek kesiapan mereka... saya kaget dan kagum. God Job, kids.
Jam yang ditentukan untuk berangkat menuju lokasi di Rumah Pintar Sahabat Al Islam, berbondong-bondong orangtua anak-anak mengantar, bahkan membantu kami mengumpulkan perbekalan. Kemah kali ini, peserta diharuskan membawa beras, bawang merah, bawang putih, telur, minyak goreng, gula, garam, jagung manis. Tentu saja dalam jumlah sedikit yang sudah ditentukan. Benar-benar seperti kemah beneran... Dibantu kendaraan dari pak RT kami, maka berangkatlah tim menuju lokasi sekitar tiga kilometer dari TBM WACAN.

Tiba di lokasi, kami disambut bersamaan datangnya peserta dari berbagi desa atau kecamatan lainnya. Bahkan ada peserta dari luar kota Malang. Suasana kemah benar-benar langsung terasa. Saya dan Mbak Indri yang saat itu mendampingi anak-anak.. rasanya pengen ikutan kemah... hehehehe apa daya, tidak mungkin mengajak balita-balita kami menginap disini.

 Maka... dimulailah SUMMER CAMP 2012.. dengan upacara bendera dan iringan lagu Indonesia Raya. Terharu rasanya... setelah sekian tahun saya tidak lagi mengikuti upacarfa bendera.. dan sekarang menyaksikan MERAH PUTIH naik perlahan dengan iringan lagu. Yang lebih membuat saya terkesan, peserta tidak lagi peduli lbaju apa dan bagaimana kondisi mereka. Ada yang pakai alas kaki, sepatu, bahkan ada yang tanpa alas kaki sama sekali. Semuanya bergabung, menyatu, saling menyapa, bertanya nama dan tempat asalnya... semuanya senyum. Sebagian kecil peserta ada yang membawa bantal atau benda-benda kesayangannya dari rumah, berharap akan bisa lebih nyaman saat berpisah dari orangtua. qiqiqiqi... lucu sekali melihat mereka.. juga menyaksikan banyak orangtua memberikan pesan-pesan sebelum meninggalkan putra-putri mereka di lokasi kemah. Mungkin agak berat, tapi yakin bahwa mereka bisa mandiri.

"SUMMER CAMP 2012...!!" seluruh peserta pun menyahut " YES...!! WE ARE READY....!!"

Malam pertama di perkemahan.Udara sangat dingin, karena memang ini puncak musim dingin di bulan Juli. Malam ini, semua peserta diajak melihat film motivasi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus mempersiapkan pandangan mereka untuk acara outbond esok pagi, tentang teknologi dan sains. Malam mulai merayap... semua peserta tertidur lelap... di luar dingin, tapi di dalam tenda mereka cukup hangat, karena panitia menyiapkan tenda berlapis bagi mereka.


Pagi harinya, agenda outbond... banyak pos mengasyikkan hari ini. Semua peserta disiapkan dalam kelompok. Mereka juga meniapkan yel-yel kelompok dengan pendampingan panitia di tiap kelompoknya. Setelah sarapan bersama, outbond dimulai... Pos 1. Permainan Ular Tangga dan pengenalan jenis-jenis primata. Pos 2. Pos sarang semut dan rayap. Pos 3. bagian Aerodinamika, dengan percobaan alat bumerang... wow... asyiik.. peserta antusias. Pos 4. Laboratorium Ikan dan belut. Pos 5. Bagian musik angklung. Saya sendiri saja pengeeenn... maka jadilah saya ikutan outbond dengan membawa si kembar... 



Malam harinya, adalah acara api unggun dan pentas seni...  Setelah Sholat maghrib, semua peserta makan bersama di lapangan rumput... PAKET AYAM dari KFC.... hhhmmm RENYAH dan GURIH...
TBM Wacan mendapat kesempatan menampilan seni angklung... dan semua peserta terdiam terpesona dengan alunan lagu Gundul Pacul dan Twinkle Little Star. Malam itu, kami semua makan jagung bakar di tepi hangatnya api yang melambai... mengantarkan semua peserta tidur lelap.


Selesai....??? HO HO HO... Belum... masih ada kejutan lainnya esok pagi saat penutupan...

Pagi hari... upacara penutupan.. "DENGAN INI SUMMER CAMP 2012 DITUTUP"  peserta menyahut dengan keluh "HUUUUUUUUU......." . Saat itulah, kejutannya hadir... seorang tamu BULE dari RUSIA datang..... anak-anak pun bersorak..



Penutupan menjadi banjir hadiah... paket-paket mainan dalam tas dari KFC dibagikan kepada seluruh peserta tanpa kecuali. Bahkan peserta-peserta terbaik dalam kategori tertentu mendapat hadiah mainan tambahan....

SAMPAI JUMPA DI SUMMER CAMP TAHUN DEPAN....(nws)


21 APRIL

Kegiatan peringatan hari Kartini, bagi kami sangat istimewa. Betapa tidak. Saat itu menjadi momentum besar, kami merasakan warga RT-RW merasa memiliki TBM WACAN. Bahu-membahu tanpa pamrih sedikitpun. Ibu-ibu menyiapkan kue-kue dan makanan dengan lauk dan sayur seadanya. Bapak-bapak menyiapkan tempat sampai tengah malam, terpal pelindung panas dan hujan, soundsystem. Remaja menyiapkan diri untuk membantu segala hal yang kurang, dan anak-anak menyiapkan pentas sebaik-baiknya, menghafal not lagu, berpuisi, drama. Bahkan, banyak teman dan relasi di Malang dan luar Malang ikut membantu kami dengan berpartisipasi langsung atau pun mengirimkan baju-baju layak pakai.Kami semua bersiap untuk tiga agenda selama satu hari. Pagi, ada pengobatan gratis untuk lansia, siang sampai ada bazaar baju murah dan pentas seni.
Semua kegiatan hari itu lancar, dan hikmat. Sungguh, nilai yang sangat luar biasa, karena kami merasa mulai hari itu dan seterusnya, TBM WACAN benar-benar MILIK BERSAMA.

TIGA IBU SERANGKAI

Ada beberapa rekan bertanya... siapa saja pengurus TBM Wacan?


Kami tidak punya pengurus, atau susunan organisasi. TBM Wacan memang dirintis oleh TIGA IBU SERANGKAI, tapi kami hanya merintis, menjaga konsistensi, menghidupkan terus bara api jangan sampai mati.


bu Leila
bu Indri
bu Nihan

TBM Wacan milik bersama, milik saya, kamu, anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, warga, bahkan nenek dan kakek. Kita jaga bersama, kita hidupkan apinya bersama. Bergantian, ataupun bersama-sama.

Bulan Mei

Sebenarnya, sedikit terlambat -mungkin- untuk menulis tentang bulan Mei. Tapi, bagi saya pribadi -Nihan- tentu tidak. Perlu persiapan mental untuk menulisnya... hehehehe... kenapa hayo..?? hhmm...


15 Mei 2012. Kami menunggu kedatangan tamu beberapa mahasiswa dari Universitas Machung, yang akan menyumbang buku-buku untuk TBM WACAN. Tak kunjung datang sampai tengah hari. Maka kamipun beraktifitas seperti biasanya pasca Dzuhur, yaitu menidurkan anak-anak kami. Sampai akhirnya, saat masih berusaha ngeloni anak-anak, mereka datang membawa dua kardus besar berisi banyak buku. Anak-anak TBM WACAN yang sejak tadi menunggu, tentu tak sabar membuka, melihat isinya.. segera membantu memberi stempel TBM WACAN, supaya mereka bisa segera pinjam untuk dibaca.

18 Mei 2012. Saya kembali pulang ke Malang setelah dua hari mudik ke Madiun. Naas. Bis Jombang-Malang yang saya tumpangi bertabrakan dengan truk pengangkut ayam di tikungan Ngoro, Jombang. Beberapa jahitan di dekat mata, disertai bengkak dan memar di wajah. Bersyukur kondisi saya tidak lebih buruk, mengingat posisi duduk tepat di depan kaca depan bus, yang hancur tak bersisa. Padahal, kami tengah mempersiapkan kegiatan peringatan Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2012. Musibah inilah, yang membuat saya harus beberapa kali menunda menulis. Mengingat peristiwa itu, saya harus beberapa kali menghela nafas panjang saat mengetik. Sebuah kejutan dari anak-anak TBM yang datang menjenguk, dengan banyak tulisan di kartu ucapan dan sekeranjang buah.. membuat saya benar-benar terharu.. Terimakasih.. Anak-anak ini energi dan vitamin bagi saya.


20 Mei 2012. Dengan kondisi mata masih membengkak, kami bertiga, dibantu beberapa teman, dan adik-adik remaja sekitar.. tetap mempersiapkan acara Lomba Menggambar dan Senam Otak untuk Anak. Alhamdulillah lancar, dan antusias. Senyum anak-anak benar-benar menjadi obat mujarab bagi kami



Mari kita BANGKIT, kawan...



Kamis, 26 Juli 2012

SPANDUK BARU TBM WACAN


Kami tersenyum memandang sebuah nama terpampang. Ukurannya cukup besar. Satu kali lima meter. Nama kami, TBM WACAN tertulis jelas, juga alamat lengkapnya. Bantuan dari KFC Go Green. Berulang kali saya memandangnya. Arti yang sangat dalam dari nama itu. Sungguh. Saat menulis ini pun, rasanya trenyuh. Mengingat bagaimana kami bertiga mulai merintisnya, mengelola, dan konsisten dengan cinta kami. Apalagi, kami masih harus melakukan tugas utama kami sebagai ibu bagi anak-anak kami yang masih balita. Dan kami masih ada, dan akan tetap ada, meskipun nama itu mungkin suatu hari akan menjadi kenangan saja. Semangat kami di hati anak-anak pasti akan menjadi kenangan indah.

Setiap orang yang melalui gang kami, selalu menoleh dan membacanya sambil kadang berbicara "TBM apaan sih?", atau "wacan itu opo yo?", dan mereka tahu "oh, ini yang ngasih spanduk (banner-red) dari KFC". Saya hanya tersenyum dari kamar depan, yang kebetulan berada tepat di pinggir gang, di depan papan nama itu.

(pas sepuluh menit :D, saya harus mengunjungi PAUD, dan kegiatan lain yang juga dibantu suvenir dari KFC. Thank you anyway)

Rabu, 25 Juli 2012

AKU DAN ANAK-ANAK


oleh Mavi Peduli Pendidikan pada 26 Juni 2012 pukul 8:20 ·
Ada cukup banyak anak di kampung ini, Kampung Sungai Dungan 2. Dan yang membuatku salut adalah kemandirian mereka. Setidaknya menurut sudut pandangku. Setiap hari orang tua mereka harus pergi ke ladang pagi-pagi benar (karena ladang mereka cukup jauh) untuk menanam, memanen, mencari sayur, atau bahkan kayu bakar. Anak-anak yang lebih besar biasanya akan mengasuh adik-adik mereka yang masih kecil. Bahkan ke sekolah dan di dalam kelas pun, mereka lakukan sambil menggendong adiknya, sementara orang tua mereka masih belum pulang dari ladang. Sepulang sekolah, beberapa anak bahkan masih harus membersihkan rumah, mengambil air ke sungai, memasak dan turun ke sungai untuk mencuci semua peralatan masak. Di usia mereka yang masih kecil, mereka telah mampu melakukan semua itu…bukan hanya untuk dirinya tapi juga suatu bentuk tanggung jawab bagi keluarga mereka. Satu hal yang aku pelajari dari sini, mereka menjadi mandiri di usia anak-anak. Bukan hanya karena keadaan yang membentuk mereka, tapi juga karena keikhlasan mereka menerima semua keadaan itu.

Merekalah, yang selama aku berkarya di sana, selalu setia menemaniku. Hampir dalam setiap waktu mereka selalu ada di dekatku. Sepulang sekolah, setelah selesai mengurus rumah dan mengasuh adik, mereka mengajakku menyusuri sungai untuk mencari ikan atau tengkuyung (sejenis kreco di Jawa)atau ke hutan mencari pakis, jamur, rebung atau buah. Tak pernah lupa mereka selalu membaginya untukku dan Martha(guru lokal) yang tinggal di kampung mereka. Meski hasil yang mereka peroleh kadang tidaklah banyak. Bahkan pernah suatu kali mereka hanya mendapat 5 ekor ikan kecil setelah lama mencari. Tapi yang sedikit itupun masih mereka bagi denganku. Tiga ekor untukku dan 2 ekor untuk mereka sekeluarga. Ketika kami menolaknya supaya yang sedikit itu bisa mereka nikmati bersama keluarga mereka, mereka pulang dengan wajah sedih dan diam. Dari seorang ibu, aku dan Martha mengetahui anak ini bertanya pada sang mamak dalam bahasa kampong, “Kenapa kakak gak mau menerima pemberianku? Sementara aku udah lelah mencarinya buat kakak…”. Ketika besoknya aku panggil anak itu, bertanya dan mencoba sedikit menjelaskan, dengan polos dia berkata, “Aku takut kakak lapar dan gak ada lauk…”. Sejak saat itu, aku tidak pernah menolak lagi apapun yang mereka berikan meski itu cuma ikan 1 ekor. Hehehe… Pernah suatu pagi (kira-kira Pk. 03.30), mereka terbangun karena angin kencang dan segera bergegas. Aku Tanya, “Mau kemana?”, mereka menjawab, “Mau ke hutan cari buah duri (durian) buat kakak”. Karena masih kaget dan terhenyak mendengar jawaban mereka, aku pun hanya terdiam dan tidak menghalangi mereka pergi. Setelah mereka pergi, barulah aku sadar aku tidak suka durian. Hehehe… Pukul 06.00 mereka sudah kembali dengan 5 buah durian. Dua buah diberikannya padaku. Inilah awal aku belajar makan durian.

Bagi mereka, cinta adalah cinta. Tanpa peduli hitungan untung dan rugi. Apa yang mau mereka lakukan, mereka lakukan. Sesederhana itu. Dan hati merekalah yang menggerakkan semua itu. Kehadiran seorang anggota MAVI maupun relawan lainnya tidaklah mereka pandang hanya sebagai guru di sekolah, tapi juga seorang teman dan kakak. Dalam satu obrolan, seorang anak pernah bertanya padaku, “Kenapa kalian orang besar (dewasa) suka sekali membuat kami menangis? Sebentar kalian datang, kami sudah senang.. tapi kalian lalu kembali ke Jawa…”.
Di lain hari dalam bahasa kampung dia kembali berkata, “Aku gak mau kakak pulang ke Jawa. Selamanya aja kakak di sini, mengajar kami. Bawa aja bapak dan mamak kakak ke sini…nanti ada aku kasih makan kalian sampai tua”.
Pertanyaan-pertanyaan dan perkataan itu…tidak pernah bisa aku jawab hingga tuntas. Aku hanya bisa diam dan senyum…
(Margaretha Lily)